Rabu, 09 November 2011

CITA-CITA JADI DIRUT


Manager HRD sebuah perusahaan besar sedang menginterview para calon manager yang mendapat kesempatan test promosi jabatan, salah satu calon manager sebut saja namanya Ahmad membuat sedikit perbedaan dengan calon manager lain saat di interview, ini petikan interviewnya:

Manager HRD :
 “Apa ekspektasi anda di perusahaan ini?” 

Ahmad  :
“Saya ingin menjadi Direktur Utama pak”, jawab Ahmad dengan mantap

Cukup kaget Manager HRD dengan jawaban Ahmad yang disertai sikap percaya diri tinggi tersebut, lalu…

Manager HRD :
 “Apa tujuan kamu ingin jadi Direktur Utama?”

Ahmad  :

 “Saya ingin merubah kebiasaan kalo Rapat, terdengar azan hanya diam mendengarkan lalu rapat dilanjutkan. Kalo saya jadi Dirut, rapat akan saya Hentikan dan langsung saya ajak semua peserta rapat dan karyawan shalat”.

Manager HRD :

 “Cita-cita yang bagus, tapi mungkinkah pegawai seperti anda jadi Dirut?”

Ahmad :
 “Bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin pak, walau realitanya amat sangat sulit terwujud karena akan sangat menguras cost yang sangat besar.”

Manager HRD :

 “Kenapa?”

Ahmad : 
“ Bayangkan pak, bila saya jadi Direktur Utama, akan banyak pejabat dan karyawan yang stress, karena saya ingin semua karyawan Muslim beriman kepada Allah, ibadah dan bekerja dengan maksimal karena kedudukan bekerja, sama dengan ibadah kepada Allah, saya tidak mau bermaksiat kepada Allah  dengan kesia-siaan apalagi Korupsi yang menghancurkan bangsa ini.”  Kenapa high cost, karena bila saya jadi Dirut, perusahaan ini akan banyak  mengeluarkan biaya perawatan rumah sakit untuk karyawan yang stress karena ketegasan saya terhadap kesia-siaan, maksiat apalagi korupsi yang sudah menjadi hal biasa di perusahaan ini.”

Manager HRD : 
“Memang sulit, pak Ahmad”


Wallahualam
 
http://pengusaha-hebat.blogspot.com/2011/10/cita-cita-jadi-dirut.html

DIRUT DAN TAUBAT


Seorang Dirut baru sebuah perusahaan besar mengumpulkan seluruh Top Management jajarannya sehubungan dengan kerugian terus menerus yang dialami perusahaan dalam 6 bulan pertama kepemimpinannya.

Dalam pertemuan itu Dirut berkata:
" Sesungguhnya sebagai pemimpin tertinggi yang di amanahi di perusahaan ini sayalah yang paling bertanggung jawab atas kerugian ini. Segala strategi dan cara telah kita lakukan, tapi sepertinya kerugian belum mau meninggalkan kita. Akhirnya beberapa hari ini saya merenung dan membuka kembali lembaran-lembaran kalam Ilahi dan nasihat pemimpin terbaik manusia Muhammad SAW dan inilah analisa saya penyebab kerugian prusahaan, semoga bisa menjadi perenungan kita semua."

PERTAMA: 
Selama hidup, saya ini manusia pencinta dunia, gila kesuksesan dan paling bahagia melihat pesaing hancur, segala taktik saya halalkan untuk memenangkan persaingan bisnis. Saya datang menjadi Dirut disini dengan seabrek catatan kesuksesan saya di perusahaan-perusahaan besar untuk menerima tantangan di perusahaan yang saya anggap kecil ini, dengan bisnis dan produk yang baik secara matematis bukan hal sulit awalnya bagi saya untuk sukses di perusahaan ini, tapi ternyata Allah menghendaki lain. Sikap SOMBONG inilah penyebab pertama kegagalan saya.
Sesungguhnya dosa pertama yang muncul dan membuat Allah murka adalah Sombong, Iblis tidak mematuhi Allah untuk bersujud kepada Adam karena menganggap Adam tidak lebih baik dari dirinya. Saya bersyukur Allah memberi saya peringatan kerugian ini karena bila sebaliknya perusahaan laba, kemungkinan sayalah manusia paling sombong di dunia yang akan menjadi sahabat Iblis di Neraka kelak.

KEDUA:
Sesunguhnya cobaan dan musibah yang datang karena diundang oleh DOSA-DOSA saya, baik yang telah lalu sebelum ataupun setelah bergabung disini. Sebelumnya saya tidak pernah menyesal ataupun bertaubat atas dosa-dosa saya yang akibatnya seluruh karyawan menerima akibat dari dosa-dosa saya ini. Untuk itulah saya bertaubat dengan sebenar-benarnya dan mengajak teman-taman semua untuk bertaubat mohon ampun atas segala dosa-dosa kita sehingga kita bisa memulai hari baru mengelola perusahaan dengan jiwa dan hati yang bersih karena  Allah SWT berfirman “
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS Asy Syuura 30)

KETIGA:
Sebagai Pemimpin tertinggi seharusnya sayalah yang bertanggung jawab mengajak seluruh manajemen untuk beriman dan beribadah kepada Allah. Saya sadar selama ini tidak pernah shalat tepat waktu, tidak pernah shalat berjamaah,  apalagi menjadi Imam, tidak pernah menggingatkan apalagi mengajak teman-teman semua untuk shalat.  
Saya sadar selama ini senantiasa mengabaikan Adzan karena alasan Meeting, mengabaikan Adzan karena ada tamu penting. Saya sadar selama ini menganggap remeh dan berfikiran tidak ada hubungannya antara shalat tepat waktu, shalat berjamaah dengan laba/rugi perusahaan. Para ulama menyebut sifat saya ini SEKULER karena memisahkan antara Keimanan dengan Bisnis.

KEEMPAT:
Sudah selayaknya perusahaan kita yang berbisnis di bidang yang baik, juga dikelola dan dijalankan dengan cara-cara yang baik, tidak melangar aturan baik aturan dunia apalagi aturan Allah yang selama ini sering kita hiraukan. Saya sering berprilaku dan membiarkan karyawan yang berbuat tidak pantas bahkan bermaksiat tapi saya biarkan karena saya juga berbuat hal yang sama, bisa jadi karena KEMAKSIATAN inilah Allah menghukum kita.

Wallahualam


http://pengusaha-hebat.blogspot.com/2011/10/dirut-dan-taubat.html

BERKURBAN SUPAYA TIDAK JADI KORBAN


"Alhamdulillah setelah setahun bekerja, tabungan cukup untuk beli satu ekor kambing", gumanku beberapa hari menjelang Iedul Adha. 
Sepulang kerja saat berjalan menuju pangkalan angkot melewati jalan ABC pusat perkulakan barang-barang elektronik di Bandung, tiba-tiba mata tertarik sebuah TV berbentuk bola, karena saat itu memang sedang seru-serunya piala dunia France 98. Termenung di depan etalase toko, dalam benak terjadi pergolakan dahsyat "Kurban kan bisa tahun depan, sedangkan piala dunia empat tahun sekali". Pergolakan tersebut terus berkecamuk mulai mengikis niat berkurban yang sudah direncakan setahun sebelumnya. 
Tapi Allah memang maha Penyayang memberikan pelajaran yang membuat saya tidak ingin menunda sebuah amal sholeh terutama kurban, beberapa hari menjelang Iedul Kurban penyakit Demam Berdarah mampir dan mengharuskan saya "nginep" di rumah sakit seminggu lebih menghabiskan seluruh tabungan yang diniat awalkan untuk berkurban terselewengkan niatnya dengan godaan TV.


Bank tempat saya bekerja dulu memiliki direksi yang berikan bonus menjelang Iedul Adha sehingga para karyawan dimudahkan membeli hewan kurban tanpa harus keluar dana dari dompet sediri. Ujian sesungguhnya terjadi saat direksi baru tidak lagi mengeluarkan kebijakan bonus menjelang Iedul Adha. Suara-suara ketiadakpuasan terdengar "Wah mulai tahun ini kita tidak bisa kurban nih karena bonus kurban dihapus". 


"Kurban dimana kang tahun ini?" tanya saya kepada driver kantor saat saya berdinas di sebuah cabang bank syariah di luar Bandung.


"Ahh pak, tidak mungkin pegawai seperti saya bisa berkurban, bayar anak sekolah saja saya sering pinjam sama bapak" jawab driver sambil nyengir.


"Berapa bungkus sehari habis rokok kang?' tanya saya melihat bungkus rokok merek paling mahal tersembul di saku bajunya.


"Paling satu atau satu setengah bungkus pak, tidak banyak-banyak, tidak seperti dulu bisa tiga bungkus sehari, sekarang lagi nyoba dikurangi, udah tua pak"


"Berapa harga sebungkus rokok tersebut sekarang kang?" tanya saya


"Sepuluh rebu pak" jawab driver kantor.


"Kang mau berkurban tahun depan?" tanya saya


"Mau dong pak, tapi uangnya dari mana pak?"


"Coba uang satu bungkus rokok tadi ditabung 5 ribu perhari, satu tahun Insya Allah dapat Rp. 1,8 juta sangat cukup untuk berkurban tahun depan" Tapi tetap saja driver tersebut merokok dan tidak berkurban tahun depannya.


Sahabat, menyembelih hewan kurban setiap tahun bukan sekedar laksanakan perintah Allah "Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah" (QS Al Kautsar:2).


Bukan juga karena takut teguran keras Rosulullah SAW
"Barang siapa yang telah ada kelapangan (kemampuan untuk berkurban) namun ia tidak mau berkurban, maka jangan dekati tempat shalat kami"


Berkurbanlah karena Allah yang telah berikan nikmat tidak terhitung kepada kita "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak" (QS Al Kautsar:1)


Berkurbanlah untuk kesempurnaan amalan kita sesuai firman Allah
"Kamu sekali-kali tida sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (QS Ali Imran: 92)


Sahabat, jangan jadikan diri jadi Korban syetan yang berbisik sayang uang hasil bekerja keras hanya untuk kurban tunggu saja kalau ada bonus dari kantor atau kalau dapat profit besar.


Sahabat jangan menjadi Korban hawa nafsu terhadap kebendaan dan dunia yang nilainya jauh lebih besar dari seekor hewan kurban. Jutaan muslim rela "membakar" uang demi sebungkus rokok setiap hari yang bila dikumpulkan mampu berkurban.


Jangan pula menjadi Korban lifestyle atau gengsi, hingga kita rela antri dan kuras tabungan demi sebuah Gadget terbaru semisal IPAD atau BB Dakota yang nilainya bisa untuk berkurban satu keluarga, padahal gadget lama masih sangat layak. Kata bang Rhoma Ter...la...luh....






Selamat memilih, apakah akan berKURBAN atau terus menjadi KORBAN.


Salam semangat, barokallah sukses untuk sahabat semua.


Budi Cahyadi 
http://pengusaha-hebat.blogspot.com/2011/11/berkurban-supaya-tidak-jadi-korban.html

UNTUNG BESAR DAN CEPAT


Siapa yang tidak mau, usaha yang kita jalankan berkembang cepat, penjualan melejit dan keuntungan besar! fantastis bukan?. Untuk itulah banyak para pengusaha melakukan segala hal untuk meraihnya apalagi dengan fenomena teknologi internet, hal tersebut saat ini bukan hal yang mustahil, saat ini banyak sekali tumbuh entrepreneurs muda sampai dengan "artis dadakan" karena internet, menyilaukan sekaligus menjadi pendorong generasi muda meraih sukes.


Tapi saat terjun ke sektor riil bisnis ternyata kenyataanya tidak semudah yang dibayangkan, kesuksesan ternyata memerlukan perjuangan, pengorbanan besar, kerja keras, waktu, tenaga, fikiran, hati bahkan kerugian modal. 
Tidak heran banyak yang melakukan cara-cara tidak fair untuk meraih kesuksekan dengan cepat yang tercermin dalam strategi dan transaksi bisnis yang dilakukannya. Beberapa contoh praktik tidak fair dalam bisnis yang sering dilakukan para pebisnis sebagai berikut.


  • Fiction Testimonial, yaitu teknik membayar tokoh yang memiliki network luas untuk mempromokan produk kita tanpa pernah tahu apakah tokoh tersebut pernah menggunakan produk kita tahu kualitas dan spesifikasi lainnya. Walaupun teknik ini dianggap wajar di kalangan ahli marketing, tapi berbohong adalah dosa besar yang paling dibenci Allah.
  • Fenomena media sosial seperti twiiter atau facebook menawarkan kekuatan baru yang tidak terbatas untuk meraih network luas yang memudahkan kita menjual produk, maka tidak heran para pebisnis rela membayar ahli internet untuk menambah frends atau follower dalam waktu yang cepat. Jadi jangan heran bila tiba-tiba frend request di akun FB atau akun twiiter kita menjadi follower akun lain tanpa pernah kita melakukannya. Walau terlihat keren di mata praktisi pemasaran tapi tidak di mata Allah, karena curang sifat yang dibenci Allah.
  • Teknologi internet pula yang mendorong investasi penipuan Money Games (Ponzy/Piramida) dengan mendopleng teknik pemasaran ala Multi Level Marketing merajalela. Hampir tiap hari e-mail saya terima tanpa tahu siapa yang mencatut alamat email saya menawarkan bisnis investasi yang sangat-sangat menggiurkan, seperti contoh sebuah perusahaan bernama PT Transja**kom** menawarkan investasi syariah menawarkan keuntungan sebesar 300% per tahun hanya dengan investasi sebesar Rp. 10 juta saja. Atau Speed**ne sebuah "MLM" dari Inggris menawarkan profit investasi yang fantastis. Tidak heran orang awam yang berfikiran pendek pasti langsung mendaftar. Tidak cukup ternyata pengalaman buruk dan cerita tragis seperti PT Qisar di Sukabumi yang menghebohkan dan merugikan masyarakat beberapa waktu lalu.  
Sahabat! Allah dan Rosulnya tidak pernah melarang kita menjadi kaya raya dalam waktu singkat, yang Allah dan Rosulnya larang adalah kita bertransaksi secara curang dan bohong yang merugikan orang lain bahkan masyarakat umum. 

Sahabat, takutlah dengan sebuah peringatan dari Rosulullah SAW dari Abu Dzar Al Ghifari bahwa:
"Di akhirat kelak ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah, maka celakalah orang yang termasuk dalam golongan tersebut menjadi ahli neraka, salah satunya adalah "PEBISNIS YANG BERTRANSAKSI BOHONG DAN CURANG".

Wallahualam Bishowab

Salam Semangat, Barokallah Sukses untuk Sahabat Semua

Budi Cahyadi
 
http://pengusaha-hebat.blogspot.com/2011/11/untung-besar-dan-cepat.html

BELAJAR SAMPAI KE CHINA


"Tuntutlah Ilmu walau sampai ke negeri China" hadist yang sering kita dengar untuk memotivasi bagi Muslim untuk terus belajar menjadi yang terbaik dalam berbagai hal. Walau hadist tersebut setelah diteliti oleh para ahli hadist statusnya dhoif (lemah) dan tidak bisa dijadikan hujjah (dasar/dalil) bagi Muslim


Saya tidak ingin berpolemik tentang dhoifnya hadist tersebut karena memang bukan ranah kompetensi saya, tapi saya hanya ingin belajar dari saudara etnis China yang saat ini menjelma menjadi penguasa dunia dalam bidang ekonomi, tidak perlu jauh-jauh pergi ke negara China, cukup kita amati kuat dan sukses saudara kita etnis China mendominasi peran bidang ekonomi di Indonesia.
  • Saudara kita etnis China sejak republik ini berdiri, perannya "dibatasi"  oleh penguasa negara kita jaman dulu, mereka tidak bisa menjadi PNS, TNI/POLRI atau pejabat publik lainnya. Kondisi ini mendorong mereka mencari peran lain yang saat itu jarang di lakoni kaum pribumi yang lebih memilih menjadi PNS atau pegawai. Peran tersebut yaitu di bidang perniagaan atau bisnis, maka wajar hasilnya saat ini saudara etnis China mendominasi perniagaan yang mereka bangun sejak awal sejarah negara ini.
  • Sejak saya kecil orang tua selalu bilang "Sekolah yang jujur, nanti jadi PNS atau pegawai yang gajinya tetap dan dapat pensiun". Berbeda dengan saudara etnis China supplier yang menasehati saya "Kalau mau kaya, daganglah". Mereka bentuk anak-anak dengan kultur dagang yang kuat. Rutin saya lihat anak-anak mereka ikut sibuk di toko membantu orang tuanya walau hanya sekadar membungkus atau bermain, tapi dinamika bisnis sudah mereka rasakan sedari kecil dan itu adalah modal pondasi terbesar untuk seorang Entrepreneurs. Berbeda dengan kita yang setelah kerja lalu karena jenuh dalam bekerja, baru kepikiran berbisnis. Belum terlambat, tapi kita ketinggalan puluhan step dari saudara etnis China.
  • Sebagai imigran, kondisi sulit, termarginalkan dan terpepet, menjadikan saudara etnis China  "strugle, disiplin dan pekerja keras". Banyak cerita hebat mereka hanya makan bubur atau menjadi kuli panggul, saat awal-awal membangun bisnis, mereka jarang hamburkan uang untuk lifestyle seperti yang sering kita lakukan. Kondisi terdesak inilah yang akhirnya mengeluarkan seluruh potensi diri menjadi yang terbaik di bidang perniagaan.
  • Persaudaraan yang kuat sangat dijaga oleh saudara etnis China, wajar karena minoritas mereka saling tolong-menolong dalam bisnis. Jangan heran bila tiba-tiba buka sebuah toko dengan barang yang berdatangan dengan cepat ke tokonya sehingga langsung penuh dan ramai. Setelah saya selidiki ternyata para supplier adalah saudara atau teman etnis China lain yang mensupplai untuk kemajuan saudaranya.  Subhanallah.....
  • Persaudaraan yang kuat juga mendorong saudara etnis China saling menjaga dalam bisnis. Coba saja datang ke jalan ABC pusat perkulakan barang elektronik di kota Bandung, mereka membuat komunitas yang benama ABC Grup, sehingga kita tidak akan menemukan banting-bantingan harga walau toko mereka saling berdempetan kiri-kanan-depan-belakang. Luar Biasa........


Sahabat, coba perhatikan kelebihan saudara etnis China diatas, sesungguhnya tanpa mereka sadari telah melaksanakan perintah Allah dan Rosul dalam hal mencari nafkah dan hal lainnya, mari kita bedah:
  • Rosulullah SAW dalam sebuah hadist bersabda "Sembilan dari sepuluh pintu rizki ada dari perniagaan/bisnis" artinya pintu rizki kaum pribumi yang umumnya menjadi pegawai hanya 1/10 dari saudara etnis China sebesar 9/10 maka wajar bukan mereka mendominasi perekonomian negeri ini. 
  • Sejarah para nabi sebelumnya dan para sahabat sedari kecil telah terdidik dengan bekerja pada umumnya menggembala ternak atau berniaga. Rosulullah SAW sejak usia 8 tahun sudah menggembala kambing dengan sang kakek, usia belasan tahun sudah ikut berniaga bersama pamannya. Sejalan dengan saudara etnis China yang sedari kecil sudah terlatih, maka saat mereka besar sudah bukan lagi masa latihan atau percobaan seperti yang pada umumnya kita lakukan saat ini karena kita sedari kecil sudah bermindset atau dibentuk mental sebagai pegawai.
  • Kesulitan dan kerasnya hidup adalah sahabat para nabi, sabahat dan salafus shalih sebelum kita. Sebagai contoh sahabat Abdurahman bin Auf saat berhijrah dari Mekah ke madinah setelah menolak bantuan gratis dari sahabat ansor, beliau bekerja keras menjadi kuli angkut di pasar Madinah dan tidak lama menjelma menjadi pedagang paling sukses dalam sejarah perniagaan kaum muslim. Sama seperti saudara etnis China sebagai imigran mereka berjuang dan bekerja keras meraih kesuksesan di negeri ini.
  • Dalam Islam persaudaran adalah hal wajib yang harus dijaga setiap Muslim. Puluhan ayat quran dan hadist yang menekankan pentingnya persaudaraan Islam atau Ukhuwah Islamiyah sebagai pondasi yang mempersaudarakan seluruh umat Muslim di seluruh dunia. Semagat ini ternyata sukses dijaga oleh saudara etnis China yang saling tolong-menolong dan menjaga sesama mereka untuk maju dalam bisnisnya. Ironis bukan, karena kaum muslim telah dibekali Allah dengan dalil tertulis yang bahkan kita baca ayatnya tiap hari dalam Al Quran dan atau hadist, tapi implementasinya ibarat Jauh Panggang dari Api.
Sahabat khususnya yang bercita-cita menjadi Muslimpreneurs, hendaknya dari sekarang kita sadar dan bangkit, untuk mengejar ketertinggalan dari saudara etnis China. Tidak ada kata terlambat dan malu untuk belajar. Tanpa malu kondisi diataslah yang mendorong saya "Nekat" resign dari belasan tahun berkarier di Bank sebuah jabatan paling didambakan jutaan orang apalagi orang tua yang tentunya bangga punya anak pejabat bank.  Karena kultur pula orang tua kita kebingungan menjawab pertanyaan apa profesi anaknya? kata Pedagang masih malu-malu diucapkan orang pribumi, padahal Rosulullah adalah Pedagang sukses dengan jabatan CEO of Khadijah Trading Company.

Sahabat, persaudaraan atau ukhuwah Islamiyah yang seolah menghilang saat ini dalam diri kaum Muslim hendaknya kita bangun lagi mulai lingkungan terkecil, dengan dasar Iman, insya Allah hati kita akan disatukan dengan proses silaturahim akan saling mengenal (Ta'aruf) lalu akan menciptakan kefahaman (Tafahum) dan akhirnya tolong-menolong (Ta'awun).

Salam Semangat, Barokallah Sukses untuk Sahabat Semua

Budi Cahyadi
 
http://pengusaha-hebat.blogspot.com/2011/11/belajar-sampai-ke-china.html?spref=fb